Selasa, 08 November 2011

Fullmoon Creatures: Chapter 1 (Part 2)

Fullmoon Creatures (Chapter 1) Part 2 sudah diterbitkaaaaaaannnn!!!!!!!!

Check it out!

http://www.kemudian.com/node/259765

Waiting for your comment!!!
We'll work harder, I PROMISE!!

^_^

Selasa, 01 November 2011

Fullmoon Creatures: Chapter 1 (Part 1)

1

Gemuruh angin membentur kaca jendela lebar di sebuah kastil megah yang diselubungi kegelapan malam. Pegunungan di sekitarnya terlihat monokrom, tanpa keceriaan, tanpa cahaya, tanpa warna-warni. Daun-daun di pepohonan mengangguk-angguk layu, seakan mempersembahkan tarian kematian dengan irama musik dari angin yang berhembus kelam. Bulan purnama yang terlihat di atas sana bahkan seakan tak ingin bersinar untuk melakukan tugasnya menerangi dunia.
Dua pasang mata menatap tajam dari dalam salah satu jendela di kastil. Kedua iris gelapnya yang bersinar kemerahan bergerak seirama tarian pepohonan. Rambut ikalnya yang berwarna keperakan tersampir lembut di pundak. Bibirnya yang kemerahan membentuk garis datar di atas rahangnya yang kokoh. Temaram lampu kekuningan di sudut ruangan yang terpantul pada di kulitnya seakan menunjukkan betapa halus dan putihnya kulit itu. tidak, lebih dari putih, tapi pucat. Seperti kulit yang tidak dialiri darah.
Gaun hitam berenda-renda sepanjang mata kaki yang dipakainya membuatnya terlihat sedang berduka. Tangannya bergerak, menyentuh kaca jendela yang dingin, sedingin pandangan matanya ke luar sana.
Tiba-tiba suara derapan kaki yang berjalan cepat memecah keheningan yang memenuhi ruangan. Gadis berambut keperakkan itu melirik pintu kamarnya melalui ekor mata.
Seorang gadis sebayanya dengan rambut hitam kelam yang dikuncir dua, masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu dan berdiri beberapa meter di belakang gadis berambut keperakan itu sambil menggenggam sebuah telepon wireless hitam. “Claire, ada telepon.”
“Siapa?” Tanya gadis berambut keperakkan yang bernama Claire itu singkat.
“Ini aku.” Sebuah suara berat milik seorang pria terdengar jelas dari dalam telepon. Tak perlu bertanya dua kali untuk mengetahui siapa itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis berambut hitam itu menyerahkan telepon kepada Claire.
“Thanks, Viviana.” Balas Claire pendek.
Viviana mengerti bahwa itu adalah isyarat baginya untuk keluar. Maka ia mengangguk tipis dan berjalan ke luar tanpa berkata apa pun.
Claire kembali menghadap ke jendela dan menempelkan telepon itu di telinganya. “Ada apa, Ayah?” Tanyanya dengan nada datar.
“Bagaimana kabarmu, Claire ?” Suara berat seorang pria terdengar dari seberang sana.
“As always…” Balas Claire. Tahu bahwa pertanyaan ayahnya hanya basa-basi sehingga tak berniat menjawab secara panjang lebar.
“Bagaimana keadaan di sana?”
“Sejauh ini, baik.”
Terdengar suara dengusan napas berat dari Ayah Claire. “Ingat apa tugasmu?”
Claire menarik napas lelah. “Menjaga keutuhan klan yang berada di istana ini.” Ia mengucapkannya dengan mantap, tanpa keraguan. Walau nada tertekan terdengar jelas dari sana.
“Bagus. Itulah yang harus kau lakukan, sebagai putriku.” Suara pria itu terdengar puas. “Lalu, bagaimana dengan latihan-latihanmu?”
“Baik.”
“Ehm-hm…” Pria itu menggumam seolah-olah berkata ‘Benarkah?’
“Aku berkata yang sebenarnya. Aku menuruti semua jadwalmu tanpa absen.” Jawab Claire meyakinkan.
“Well, bagus… Jika begitu, pasti kini kau sudah berkali-kali lipat lebih baik dari tiga bulan lalu, betul?” Pertanyaan yang seakan menuntut ketegasan, bukan jawaban.
“Ya, ayah.”
“Kau tidak keberatan suatu hari nanti aku berkunjung untuk melihat keadaan dan perkembanganmu, bukan?” Kemudian terdengar deheman dari ayah Claire, memotong perkataannya sendiri. “Ah, dan tentu saja untuk memantau keadaan klan.” Sambungnya.
“Tidak, ayah. Kau bisa datang kapan saja…” Balas Claire.
Kemudian sebuah keheningan panjang menjeda dialog mereka. Claire terdiam, tanpa sedikit pun keinginan untuk mengeluarkan suara walau dalam hati, ia sedikit heran mengapa ayahnya, Leonardo, sang pemimpin klan yang biasanya aktif berbicara dan selalu tahu apa yang harus dikatakan, kini diam. Mata Claire masih mengarah ke luar jendela, namun kini terlihat menerawang. Memikirkan sesuatu yang jauh sekali.
Saluran masih tersambung, belum ada yang mematikan telepon. Tapi keterdiaman kedua pihak membuat seakan-akan telepon telah terputus. Bahkan hembusan napas pun tak dapat didengar.
“Pada awalnya, mungkin aku bukanlah apa yang kau inginkan. Tapi aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Hingga suatu saat kau akan bangga padaku.” Claire memecah keheningan itu dengan kata-kata selirih angin.
“Aku hanya berharap kau dapat melakukan tugas-tugasmu dengan baik…” Balas pria itu dengan dingin.
”Mmm…” Claire mendengung sebagai ganti jawaban ‘Ya.’.
Klik!
Sambungan diputus. Tanpa basa-basi, tanpa kata-kata manis, tanpa salam penutup.
Claire membiarkan tangannya yang memegang telepon itu bergantung lurus ke bawah dan menghela napas.
Kadang ia menyesal tak dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki. Ayahnya—sang pemimpin klan—sangat berharap mempunyai anak laki-laki agar bisa ditempanya menjadi penerus. Claire dapat membayangkan betapa kecewanya ia mengetahui yang didapatinya adalah seorang anak perempuan. Tapi bagaimana pun, Claire adalah putri semata wayang yang dapat menggantikan posisinya, sehingga semenjak ia berusia sepuluh tahun, ayahnya mulai menggemblengnya dengan latihan-latihan keras.
Claire mengikuti semua peraturan tangan besi ayahnya dengan patuh. Tanpa bantahan, tanpa keluhan, dan tanpa menampakkan air mata atau kesakitan walau hal-hal yang dilakukannya terlalu berat untuk seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun. Satu dua kali, ia pernah merasa tak tahan lagi dan diam-diam lari memeluk ibunya sambil menangis. Tapi ibunya menenangkan dengan berkata, “Jika kau merasa ayahmu tak berlaku seperti yang kau harapkan, maka terlebih dahulu penuhilah harapannya dan buat ia bangga. Sehingga kelak dia akan berbalik untuk memenuhi harapanmu.”
Claire memegang teguh kata-kata itu hingga kini, namun sekali pun ia sudah berbuat sebaik yang ia bisa, ia dapat merasakan bahwa ayahnya tak pernah sekali pun bangga. Baginya, Claire adalah seorang perempuan, dan pemimpin perempuan tak akan dapat lebih hebat dari laki-laki kecuali ia mendidiknya dengan keras.
Dihembuskannya napas berat dengan mata yang terpejam lelah. Direngguknya pemandangan malam sekali lagi sebelum melirik jam yang berdiri di meja kecil di samping tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul satu malam.
“Sudah waktunya…” Gumamnya pelan.

-o0o-

About My New Project

Minnasaaaaannnn~~~!!!!

lama banget nggak nulis di sini lagi, gomen nasai...

akhir-akhir ini aku lagi semangat banget nulis buat proyek baru (parah deh... padahal proyek yang lama juga belom pada selesai).
Dan yang beda kali ini, COLLABORATION PROJECT!!!

aku memutuskan buat kerjasama sama seseorang untuk proyek kali ini. karena cerita yang mau aku buat adalah romance fantasy, dan aku paling lemah di genre romance...

lalu kuputuskan, aku bakal ngajak kerjasama Sunny!!!

alasanku ngajak dia kerjasama:
1. dia juga bisa nulis.
2. dia bisa buat romance.

sebetulnya setelah dijalanin, ada juga yang bikin aku nge-down. cara penulisan dan karakteristik kami beda banget. aku biasa bikin karakter yang 'dark' dan sunny masih kebawa stereotip karakter sebelumnya yang ceria.

but, mondai ga nai!!!
we'll fighting!!
lagi pula, aku baru tau ternyata kerja berdua gitu bisa membuat kata 'Stuck' pergi jauh sejauh-jauhnya!!

aku post part 1-nya di sini ya!!
matte ne!!!
^-^

Jumat, 06 Mei 2011

Suicides

Tittle: Suicides
Artist: Pieces Of the Hell
Album: Before the Suicides

Verse:
When you want to make a friend, everyone make a distance.
But when you want to be alone, suddenly everyone are hanging around.

Everyone treating you like you don't make sense.
You tried everything just to reach your goal, but you fall easily.


Reffrain:
"What the hell?!" you think.
Everything is not going right for you.
"What the hell?!!" you scream
and start to hate the world.

Chorus:
Suicide, suicide.
The voice in your head say.
Suicide, suicide.
And you start hear for them.
With morphin?
With cutter?
Or hang in the rope?
Suicide, suicide. Suicide, suicide.
You start to feel right.

Jumat, 28 Januari 2011

Synopsis of "Spirit Sender Band Girl"

Tittle: Spirit Sender Band Girl
Author: Kyuukou Okami

Kau tau hidupku? Yah, hidup biasa seperti yang kau jalani. Bangun, sekolah, ngeband, pulang, menghadapi masalah keluarga, makan, tidur. Esoknya, smua berjalan persis seperti hari ini dan kemarin.

Tapi siapa yang sangka ternyata orang seperti aku punya darah keturunan bangsawan Lilaze. Keluarga kerajaan yg memerintah, Shellion, negara maju yg kaya dan terkenal itu.

Bukan, ini bukan soal pewarisan takhta seperti kisah2 fairytale biasa. Yg jadi masalah adalah, keturunan lilaze mewarisi tugas yg istimewa, yg bahkan hanya diwariskan pd keturunan tertentunya saja. Dan itu termasuk aku.

Kau tau seperti apa tugasnya? Mengirim para arwah ke alam mereka. Aku punya satu kakak perempuan dan satu adik perempuan, tapi ternyata hanya aku yg jadi spirit sender.

Tapi masalah ternyata tak berhenti disana. Sebuah pesan misterius terus menerus dikirimkan padaku. Berkata kalau aku hrs menghentikan pekerjaanku atau smua org yg kukenal akan celaka.

Pertama kuabaikan, tetapi keluarga, dan teman2ku satu persatu terluka secara misterius pada percobaan pembunuhan.

Siapa yg melakukan itu? Bagaimana dia bs tahu? Haruskah kuhentikan tugas spirit senderku?

Mau tahu bagaimana kelanjutan hidupku? Yeah, aku juga mau tahu...