Because I’m in love with Simple Plan (yes, yes, I’ve said it so many times before…), and I miss their last album last year, I’ve just download it few days ago and, like their albums before, it’s so damn cooooll!!!!
Seperti yang udah dibaca di atas, it’s all about Get Your Heart. Iya, emang ini bukan album baru, but at least, aku baru memilikinya. Hehe… (SP Crew macam apa ini… =_=). And so, ini review pertamaku. Sejauh yang aku tau sih, biasanya kalo ngereview album gitu pake urutan track number. Tapi di sini yang kupake adalah urutan alphabet.
So please enjoy~ Tutturuu~~ XDXDXDXD
1.Anywhere Else But Here
Lagu ini adalah pembuka playlist kita. Some easy listening light rock yang mengungkapkan kehausan akan kebebasan. Well, sebuah lagu yang cocok untuk orang-orang yang terhimpit dalam rentetan rutinitas and need some freedom. Lagu yang sederhana. Nada-nada yang dipakai masih dalam batas ‘aman’ and not so earscatching. Tapi tetep terasa yummy di telinga dan lezat dilahap di hari-hari yang bikin frustrasi.
2.Astronaut
Kocokan akustik lembut akan menyapa di awal. Sebuah lagu Slow rock yang dibalut sendu dengan lirik tentang rasa kesepian dan terasingkan. Rasa itu dengan unik diandaikan seperti seorang astronot yang ditinggalkan sendirian di sebuah dunia yang tidak dipedulikan orang-orang. Lagu bagus untuk menemani telinga di hari hujan. When you feel alone, don’t worry, this song will echoes in your ear and never leave you alone.
3.Can’t Keep My Hands Off You (ft. Rivers Cuomo)
Punk Rock khas Simple Plan yang ceria, hangat, dan dipenuhi yelling yang membuat pendengarnya nggak tahan untuk nggak bergoyang. Seperti inilah yang kusebut lagu diskonya anak band. Ada suara-suara lain yang nyanyi di sini selain Pierre. Aku tebak, gandengan mereka, Rivers Cuomo-lah yang ikut turun tangan menyumbangkan suara di verse dan pre-chorus kedua. Although I don’t know who is he (or them?), it’s okay. He (or them?) make it interesting to hear, anyway. When you need a cheer; just press play button on this song and you’ll got some new smile! By the way, video klipnya lucu banget lho! I recommend you to watch this!
4.Freaking Me Out (ft Alex Gaskarth of All Time Low)
Now enough with the cheers and blue!! It’s all about emotion! Nada-nada kuat tentang kekecewaan akan seseorang yang begitu dikenal berubah menjadi orang yang begitu berbeda disuguhkan kepada kita kali ini. Dari nada aman, Pierre kini beralih ke nada tinggi di akhir bridge. Pierre’s typical scream. It’s not a scream, but it’s powerfull and high enough (and somehow make me melting~ Hahaha XD)
5.Gone To Soon
Duka karena ditinggalkan terlalu cepat oleh orang yang disayangi tersampaikan dengan baik di sini. Petikan gitar di awal lagu membuatnya kinda pop-ish. Somehow it reminds me of Secondhand Serenade. Tapi kemudian pukulan drum dan sabetan gitar elektrik di verse kedua mempertegas kerangka lagu dan kita mendapati alternative rock di telinga kita. Lagu berduka ini pun dengan sukses dibawakan Simple Plan dengan style power ballad-nya. Worth to hear!
6.Jet Lag (ft. Natasha Bedingfield)
I listened it in bed, in home, in class, in my spare time, everywhere, everytime! I even used it as my alarm tone and my ringtone! Simply, I used to listened it a lot before I write this! This song is really impressed me! Enggak salah kalau lagu ini dijadikan sebagai single jagoan album.
Dibuka dengan picking singkat sebagai intro dan disusul dengan suara punkish Pierre lalu disambar suara dalam milik Natasha, lagu ini mampu banget merenggut kupingku dan memenuhi semua playlistku.
It’s quite unique love song! It’s not all about words ‘I love you so much’ or so. Lagu ini bercerita tentang sepasang kekasih di mana si cowok harus pergi meninggalkan ceweknya ke luar negeri dengan zona waktu yang berbeda. Saat bicara waktu yang berbeda belasan jam, mereka merasa terpisah begitu jauh dan sangat merindukan satu sama lain. Quite common, you say? Tunggu sampai kau tahu perasaan mereka masing-masing diandaikan sebagai jet lag. You must be know what jet lag is, don’t you? Begitu inginnya mereka bersama sampai hati mereka ikutan jet lag karena terpisah sejauh itu. Sweet enough, huh?
Once I listened this song, I got the feel! Bukan karena aku pernah mengalaminya atau apa, tapi kurasa karena Pierre dan Natasha bisa mengolah lagunya dengan baik. Well, Natasha’s voice is not my typical favorit voice. Tipe suara cowok favoritku harus disandingkan dengan tipe suara cewek yang bukan favoritku. Tapi kuakui, Natasha make it good. Suaranya yang deep (‘berat’, kalo dalam bahasaku), powerfull dan bermain prima di range tinggi bisa mengimbangi suara ringan khasnya Pierre yang bermain di range standar. Nada lagunya pun tipe yang kusuka. Tipe nada yang diulang-ulang dengan beat yang asyik dipake untuk menggoyangkan badan.
Why there’s just 5 star?! Where’s the damn seventh star!! I want to give unlimited stars to this song!! I LISTENED TO IT THOUSAND TIMES A DAY AND STILL MY EAR CAN’T ESCAPE NOW!
So, if you want to know which song I highly recommended to you from the album (ah, I’m sure you know it already…), I RECOMMEND THIS SONG! YOU MUST HEAR IT!!! <3
7.Last one Standing
Back to emo session! Begitu kita mendengarnya, kita pasti langsung bisa meramalkan lagu ini berusaha menyampaikan rasa kecewa yang begitu dalam hingga tenggelam dalam amarah. Suara Pierre menjadi lebih garang di sini and it’s kinda aweeeeesome~ <3<3<3<3 Cabikan keras gitar dan yellnya menambah panas suasana. But wait, lagu ini nggak semata-mata cuma mengumbar kemarahan! Di bagian bridgenya, lagu ini juga membisikkan janji untuk membalas dendam dengan menjadi yang terbaik! Hei! It sounds like motivation song! Interesting, isn’t? and somehow, it’s like SUM41 typical song now! Cool! Well, scream-wanna-be nya Pierre terdengar lagi di akhir bridge.
8. Loser of The year
One more sweet punk song! Tentang seorang selebriti yang punya ketenaran dan segala yang diinginkan tapi merasa, apalah semua itu jika tak ada ‘you’. Hey, this low profile song! That’s why I like them. Cos in reality, they’re so low profile! Tentang instrumentalnya, aku masih juga ngerasa belum ada yang istimewa. Semua nadanya masih main aman. But it interesting song though! XD
9. Summer paradise (ft. Knaan)
Rockish reggae? Or I should say, reggish rock? Epic song for the cooling down session. To be honest, I don’t really like it. But its interesting to see how they explore wider range of genre without losing their own touch. It still have Simpe Plan’s typical notes. Ah, don’t forget the bridge where Knaan doing solo. Sounds fun too… And this exactly suit for the one who fell in love.
10. This Song Saved My Life
One more slow rock in the album! Sebuah lagu tentang orang putus asa dan tak punya harapan yang diselamatkan oleh sebuah lagu. Liriknya begitu dalam dan membuat kita seakan-akan mencharge kembali energi kita. Agree, music is magic, babe.
Yang paling earscatching di lagu ini adalah, choirnya!!! The right choice! Choir di latarnya membuat seakan semua orang bersama-sama setuju bahwa lagu ini menyelamatkan hidup mereka. Tapi, we need mooore!!! Yakin deh, kalo part paduan suaranya dibuat lebih panjang, at least kayak part choir Move Along-nya The All American Reject deh! Pasti bakal kerasa grand banget! Dan karena aku bilang kayak gitu, aku jadi kepikiran, mungkin keren juga kalo lagu ini dikasih sentuhan biola. Piano di intronya juga udah membuatnya cocok, tinggal ditonjolin lagi di chorusnya! Again and again, Simple Plan kayaknya lebih memilih bermain di lajur aman. Come on, Simple Plan!! We need more song experiment from you!!
11. You Suck At Love
Rupanya dalam kamus Simple Plan kali ini enggak ada kata meratap untuk orang yang putus cinta! Haha! Dipermainkan oleh seorang playgirl sepertinya membuat mereka menciptakan lagu keren lainnya. Another song for you who just broke up! Believe me, this song never take you down! You will even dance! I give all my thumbs! XD
Ini ratingku dari lagu kesatu sampai sebelas dengan range 0-100:
1.78
2.78
3.82
4.85
5.85
6.100
7.80
8.80
9.74
10.80
11.80
The result is 82!!!
Satu yang kurang adalah, aku enggak denger picking panjang sebagai pengisi bridge di satu pun lagu pada album ini. What’s going on? Apakah para gitarisnya, Seb dan Jeff, sedang kram jari? Apakah Dave sang bassist baik-baik saja? Mereka kurang ‘hadir’ di album ini! Yang kudenger cuma suara gitar dan bass yang biasa dan nggak begitu istimewa, enggak ada geregetnya.
Hm, mungkin Simple Plan kali ini lebih berkonsentrasi dengan liriknya… Yeah, meaningful and most about humanity, I see what they make, but not so different from the other album, right? But anyway, we can still find fun and lot of advice about life we can get here. Mereka pun masih setia dengan tipe lagu mereka yang khas teenage boys (although they’re not teenage anymore…) yang energik, agresif, emosional, dan mengangungkan kebebasan.
When you finished read it, go to to download the album and listened! I force you! Haha! As the SP Crew, don’t know why somehow I have obligation to recognize SP to the entire world! They’re band with good attitude anyway! So make sure you hear the songs!!
Jumat, 13 Januari 2012
Resolusi 2012
Memang, lebih dari seminggu sudah berlalu sejak tahun baru. But that doesn't mean too late for the resolution, does it?
Here my targeted on this year..
1. Masuk PTN jurusan sastra Inggris.
UI!! Yeah!!
Anyway, aku enggak akan stuck di sana. Pilihan kedua adalah Akademi Gizi. Pray for me :]
2. Nerbitin buku kumpulan cerpen A Journey of The Darkness
3. Nginstal Fruity Loops atau VirStudio lainnya dan upload lagu-laguku di
4. Lebih Aktif di dunia kepenulisan lagi!!
Aku denger-denger, semester pertama kuliah enggak akan sibuk-sibuk banget ya?
5. Kalau pun engga masuk PTN/Akademi Gizi, aku bakal postpone sampai tahun depan dan ngisi setahun yang kosong itu dengan nulis dan belajar.
6. Beli gitar akustik baru dan memuseumkan Si Harlequinaeon sayang yang necknya udah bengkok dan suaranya mulai tak wajar...
7. Ikut Fikfan 2012 dan NaNoWriMo!!!!
<= semangat membara 8. Main drama musikal dan jadi peran antagonis utama ^0^
9. Semakin bisa ngendaliin emosi dan engga pernah ngamuk-ngamuk lagi :]
10. Ada karyaku yang dipublikasiin massa. Minimal lima deh...
11. Rajin minum jus wortel, biar minus mata bisa berkurang (betapa pun memuakkannya itu...)
12. Pake wedges dan ankle boot wedges.
It seems so cuuuuuteee!!! <3<3<3 Really want it! Wedges
ankle boot wedges
Help me pray, come, fight, and win!!
Here my targeted on this year..
1. Masuk PTN jurusan sastra Inggris.
UI!! Yeah!!
Anyway, aku enggak akan stuck di sana. Pilihan kedua adalah Akademi Gizi. Pray for me :]
2. Nerbitin buku kumpulan cerpen A Journey of The Darkness
3. Nginstal Fruity Loops atau VirStudio lainnya dan upload lagu-laguku di
4. Lebih Aktif di dunia kepenulisan lagi!!
Aku denger-denger, semester pertama kuliah enggak akan sibuk-sibuk banget ya?
5. Kalau pun engga masuk PTN/Akademi Gizi, aku bakal postpone sampai tahun depan dan ngisi setahun yang kosong itu dengan nulis dan belajar.
6. Beli gitar akustik baru dan memuseumkan Si Harlequinaeon sayang yang necknya udah bengkok dan suaranya mulai tak wajar...
7. Ikut Fikfan 2012 dan NaNoWriMo!!!!
<= semangat membara 8. Main drama musikal dan jadi peran antagonis utama ^0^
9. Semakin bisa ngendaliin emosi dan engga pernah ngamuk-ngamuk lagi :]
10. Ada karyaku yang dipublikasiin massa. Minimal lima deh...
11. Rajin minum jus wortel, biar minus mata bisa berkurang (betapa pun memuakkannya itu...)
12. Pake wedges dan ankle boot wedges.
It seems so cuuuuuteee!!! <3<3<3 Really want it! Wedges
ankle boot wedges
Help me pray, come, fight, and win!!
Selasa, 08 November 2011
Fullmoon Creatures: Chapter 1 (Part 2)
Fullmoon Creatures (Chapter 1) Part 2 sudah diterbitkaaaaaaannnn!!!!!!!!
Check it out!
http://www.kemudian.com/node/259765
Waiting for your comment!!!
We'll work harder, I PROMISE!!
^_^
Check it out!
http://www.kemudian.com/node/259765
Waiting for your comment!!!
We'll work harder, I PROMISE!!
^_^
Selasa, 01 November 2011
Fullmoon Creatures: Chapter 1 (Part 1)
1
Gemuruh angin membentur kaca jendela lebar di sebuah kastil megah yang diselubungi kegelapan malam. Pegunungan di sekitarnya terlihat monokrom, tanpa keceriaan, tanpa cahaya, tanpa warna-warni. Daun-daun di pepohonan mengangguk-angguk layu, seakan mempersembahkan tarian kematian dengan irama musik dari angin yang berhembus kelam. Bulan purnama yang terlihat di atas sana bahkan seakan tak ingin bersinar untuk melakukan tugasnya menerangi dunia.
Dua pasang mata menatap tajam dari dalam salah satu jendela di kastil. Kedua iris gelapnya yang bersinar kemerahan bergerak seirama tarian pepohonan. Rambut ikalnya yang berwarna keperakan tersampir lembut di pundak. Bibirnya yang kemerahan membentuk garis datar di atas rahangnya yang kokoh. Temaram lampu kekuningan di sudut ruangan yang terpantul pada di kulitnya seakan menunjukkan betapa halus dan putihnya kulit itu. tidak, lebih dari putih, tapi pucat. Seperti kulit yang tidak dialiri darah.
Gaun hitam berenda-renda sepanjang mata kaki yang dipakainya membuatnya terlihat sedang berduka. Tangannya bergerak, menyentuh kaca jendela yang dingin, sedingin pandangan matanya ke luar sana.
Tiba-tiba suara derapan kaki yang berjalan cepat memecah keheningan yang memenuhi ruangan. Gadis berambut keperakkan itu melirik pintu kamarnya melalui ekor mata.
Seorang gadis sebayanya dengan rambut hitam kelam yang dikuncir dua, masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu dan berdiri beberapa meter di belakang gadis berambut keperakan itu sambil menggenggam sebuah telepon wireless hitam. “Claire, ada telepon.”
“Siapa?” Tanya gadis berambut keperakkan yang bernama Claire itu singkat.
“Ini aku.” Sebuah suara berat milik seorang pria terdengar jelas dari dalam telepon. Tak perlu bertanya dua kali untuk mengetahui siapa itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis berambut hitam itu menyerahkan telepon kepada Claire.
“Thanks, Viviana.” Balas Claire pendek.
Viviana mengerti bahwa itu adalah isyarat baginya untuk keluar. Maka ia mengangguk tipis dan berjalan ke luar tanpa berkata apa pun.
Claire kembali menghadap ke jendela dan menempelkan telepon itu di telinganya. “Ada apa, Ayah?” Tanyanya dengan nada datar.
“Bagaimana kabarmu, Claire ?” Suara berat seorang pria terdengar dari seberang sana.
“As always…” Balas Claire. Tahu bahwa pertanyaan ayahnya hanya basa-basi sehingga tak berniat menjawab secara panjang lebar.
“Bagaimana keadaan di sana?”
“Sejauh ini, baik.”
Terdengar suara dengusan napas berat dari Ayah Claire. “Ingat apa tugasmu?”
Claire menarik napas lelah. “Menjaga keutuhan klan yang berada di istana ini.” Ia mengucapkannya dengan mantap, tanpa keraguan. Walau nada tertekan terdengar jelas dari sana.
“Bagus. Itulah yang harus kau lakukan, sebagai putriku.” Suara pria itu terdengar puas. “Lalu, bagaimana dengan latihan-latihanmu?”
“Baik.”
“Ehm-hm…” Pria itu menggumam seolah-olah berkata ‘Benarkah?’
“Aku berkata yang sebenarnya. Aku menuruti semua jadwalmu tanpa absen.” Jawab Claire meyakinkan.
“Well, bagus… Jika begitu, pasti kini kau sudah berkali-kali lipat lebih baik dari tiga bulan lalu, betul?” Pertanyaan yang seakan menuntut ketegasan, bukan jawaban.
“Ya, ayah.”
“Kau tidak keberatan suatu hari nanti aku berkunjung untuk melihat keadaan dan perkembanganmu, bukan?” Kemudian terdengar deheman dari ayah Claire, memotong perkataannya sendiri. “Ah, dan tentu saja untuk memantau keadaan klan.” Sambungnya.
“Tidak, ayah. Kau bisa datang kapan saja…” Balas Claire.
Kemudian sebuah keheningan panjang menjeda dialog mereka. Claire terdiam, tanpa sedikit pun keinginan untuk mengeluarkan suara walau dalam hati, ia sedikit heran mengapa ayahnya, Leonardo, sang pemimpin klan yang biasanya aktif berbicara dan selalu tahu apa yang harus dikatakan, kini diam. Mata Claire masih mengarah ke luar jendela, namun kini terlihat menerawang. Memikirkan sesuatu yang jauh sekali.
Saluran masih tersambung, belum ada yang mematikan telepon. Tapi keterdiaman kedua pihak membuat seakan-akan telepon telah terputus. Bahkan hembusan napas pun tak dapat didengar.
“Pada awalnya, mungkin aku bukanlah apa yang kau inginkan. Tapi aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Hingga suatu saat kau akan bangga padaku.” Claire memecah keheningan itu dengan kata-kata selirih angin.
“Aku hanya berharap kau dapat melakukan tugas-tugasmu dengan baik…” Balas pria itu dengan dingin.
”Mmm…” Claire mendengung sebagai ganti jawaban ‘Ya.’.
Klik!
Sambungan diputus. Tanpa basa-basi, tanpa kata-kata manis, tanpa salam penutup.
Claire membiarkan tangannya yang memegang telepon itu bergantung lurus ke bawah dan menghela napas.
Kadang ia menyesal tak dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki. Ayahnya—sang pemimpin klan—sangat berharap mempunyai anak laki-laki agar bisa ditempanya menjadi penerus. Claire dapat membayangkan betapa kecewanya ia mengetahui yang didapatinya adalah seorang anak perempuan. Tapi bagaimana pun, Claire adalah putri semata wayang yang dapat menggantikan posisinya, sehingga semenjak ia berusia sepuluh tahun, ayahnya mulai menggemblengnya dengan latihan-latihan keras.
Claire mengikuti semua peraturan tangan besi ayahnya dengan patuh. Tanpa bantahan, tanpa keluhan, dan tanpa menampakkan air mata atau kesakitan walau hal-hal yang dilakukannya terlalu berat untuk seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun. Satu dua kali, ia pernah merasa tak tahan lagi dan diam-diam lari memeluk ibunya sambil menangis. Tapi ibunya menenangkan dengan berkata, “Jika kau merasa ayahmu tak berlaku seperti yang kau harapkan, maka terlebih dahulu penuhilah harapannya dan buat ia bangga. Sehingga kelak dia akan berbalik untuk memenuhi harapanmu.”
Claire memegang teguh kata-kata itu hingga kini, namun sekali pun ia sudah berbuat sebaik yang ia bisa, ia dapat merasakan bahwa ayahnya tak pernah sekali pun bangga. Baginya, Claire adalah seorang perempuan, dan pemimpin perempuan tak akan dapat lebih hebat dari laki-laki kecuali ia mendidiknya dengan keras.
Dihembuskannya napas berat dengan mata yang terpejam lelah. Direngguknya pemandangan malam sekali lagi sebelum melirik jam yang berdiri di meja kecil di samping tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul satu malam.
“Sudah waktunya…” Gumamnya pelan.
-o0o-
Gemuruh angin membentur kaca jendela lebar di sebuah kastil megah yang diselubungi kegelapan malam. Pegunungan di sekitarnya terlihat monokrom, tanpa keceriaan, tanpa cahaya, tanpa warna-warni. Daun-daun di pepohonan mengangguk-angguk layu, seakan mempersembahkan tarian kematian dengan irama musik dari angin yang berhembus kelam. Bulan purnama yang terlihat di atas sana bahkan seakan tak ingin bersinar untuk melakukan tugasnya menerangi dunia.
Dua pasang mata menatap tajam dari dalam salah satu jendela di kastil. Kedua iris gelapnya yang bersinar kemerahan bergerak seirama tarian pepohonan. Rambut ikalnya yang berwarna keperakan tersampir lembut di pundak. Bibirnya yang kemerahan membentuk garis datar di atas rahangnya yang kokoh. Temaram lampu kekuningan di sudut ruangan yang terpantul pada di kulitnya seakan menunjukkan betapa halus dan putihnya kulit itu. tidak, lebih dari putih, tapi pucat. Seperti kulit yang tidak dialiri darah.
Gaun hitam berenda-renda sepanjang mata kaki yang dipakainya membuatnya terlihat sedang berduka. Tangannya bergerak, menyentuh kaca jendela yang dingin, sedingin pandangan matanya ke luar sana.
Tiba-tiba suara derapan kaki yang berjalan cepat memecah keheningan yang memenuhi ruangan. Gadis berambut keperakkan itu melirik pintu kamarnya melalui ekor mata.
Seorang gadis sebayanya dengan rambut hitam kelam yang dikuncir dua, masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu dan berdiri beberapa meter di belakang gadis berambut keperakan itu sambil menggenggam sebuah telepon wireless hitam. “Claire, ada telepon.”
“Siapa?” Tanya gadis berambut keperakkan yang bernama Claire itu singkat.
“Ini aku.” Sebuah suara berat milik seorang pria terdengar jelas dari dalam telepon. Tak perlu bertanya dua kali untuk mengetahui siapa itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis berambut hitam itu menyerahkan telepon kepada Claire.
“Thanks, Viviana.” Balas Claire pendek.
Viviana mengerti bahwa itu adalah isyarat baginya untuk keluar. Maka ia mengangguk tipis dan berjalan ke luar tanpa berkata apa pun.
Claire kembali menghadap ke jendela dan menempelkan telepon itu di telinganya. “Ada apa, Ayah?” Tanyanya dengan nada datar.
“Bagaimana kabarmu, Claire ?” Suara berat seorang pria terdengar dari seberang sana.
“As always…” Balas Claire. Tahu bahwa pertanyaan ayahnya hanya basa-basi sehingga tak berniat menjawab secara panjang lebar.
“Bagaimana keadaan di sana?”
“Sejauh ini, baik.”
Terdengar suara dengusan napas berat dari Ayah Claire. “Ingat apa tugasmu?”
Claire menarik napas lelah. “Menjaga keutuhan klan yang berada di istana ini.” Ia mengucapkannya dengan mantap, tanpa keraguan. Walau nada tertekan terdengar jelas dari sana.
“Bagus. Itulah yang harus kau lakukan, sebagai putriku.” Suara pria itu terdengar puas. “Lalu, bagaimana dengan latihan-latihanmu?”
“Baik.”
“Ehm-hm…” Pria itu menggumam seolah-olah berkata ‘Benarkah?’
“Aku berkata yang sebenarnya. Aku menuruti semua jadwalmu tanpa absen.” Jawab Claire meyakinkan.
“Well, bagus… Jika begitu, pasti kini kau sudah berkali-kali lipat lebih baik dari tiga bulan lalu, betul?” Pertanyaan yang seakan menuntut ketegasan, bukan jawaban.
“Ya, ayah.”
“Kau tidak keberatan suatu hari nanti aku berkunjung untuk melihat keadaan dan perkembanganmu, bukan?” Kemudian terdengar deheman dari ayah Claire, memotong perkataannya sendiri. “Ah, dan tentu saja untuk memantau keadaan klan.” Sambungnya.
“Tidak, ayah. Kau bisa datang kapan saja…” Balas Claire.
Kemudian sebuah keheningan panjang menjeda dialog mereka. Claire terdiam, tanpa sedikit pun keinginan untuk mengeluarkan suara walau dalam hati, ia sedikit heran mengapa ayahnya, Leonardo, sang pemimpin klan yang biasanya aktif berbicara dan selalu tahu apa yang harus dikatakan, kini diam. Mata Claire masih mengarah ke luar jendela, namun kini terlihat menerawang. Memikirkan sesuatu yang jauh sekali.
Saluran masih tersambung, belum ada yang mematikan telepon. Tapi keterdiaman kedua pihak membuat seakan-akan telepon telah terputus. Bahkan hembusan napas pun tak dapat didengar.
“Pada awalnya, mungkin aku bukanlah apa yang kau inginkan. Tapi aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Hingga suatu saat kau akan bangga padaku.” Claire memecah keheningan itu dengan kata-kata selirih angin.
“Aku hanya berharap kau dapat melakukan tugas-tugasmu dengan baik…” Balas pria itu dengan dingin.
”Mmm…” Claire mendengung sebagai ganti jawaban ‘Ya.’.
Klik!
Sambungan diputus. Tanpa basa-basi, tanpa kata-kata manis, tanpa salam penutup.
Claire membiarkan tangannya yang memegang telepon itu bergantung lurus ke bawah dan menghela napas.
Kadang ia menyesal tak dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki. Ayahnya—sang pemimpin klan—sangat berharap mempunyai anak laki-laki agar bisa ditempanya menjadi penerus. Claire dapat membayangkan betapa kecewanya ia mengetahui yang didapatinya adalah seorang anak perempuan. Tapi bagaimana pun, Claire adalah putri semata wayang yang dapat menggantikan posisinya, sehingga semenjak ia berusia sepuluh tahun, ayahnya mulai menggemblengnya dengan latihan-latihan keras.
Claire mengikuti semua peraturan tangan besi ayahnya dengan patuh. Tanpa bantahan, tanpa keluhan, dan tanpa menampakkan air mata atau kesakitan walau hal-hal yang dilakukannya terlalu berat untuk seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun. Satu dua kali, ia pernah merasa tak tahan lagi dan diam-diam lari memeluk ibunya sambil menangis. Tapi ibunya menenangkan dengan berkata, “Jika kau merasa ayahmu tak berlaku seperti yang kau harapkan, maka terlebih dahulu penuhilah harapannya dan buat ia bangga. Sehingga kelak dia akan berbalik untuk memenuhi harapanmu.”
Claire memegang teguh kata-kata itu hingga kini, namun sekali pun ia sudah berbuat sebaik yang ia bisa, ia dapat merasakan bahwa ayahnya tak pernah sekali pun bangga. Baginya, Claire adalah seorang perempuan, dan pemimpin perempuan tak akan dapat lebih hebat dari laki-laki kecuali ia mendidiknya dengan keras.
Dihembuskannya napas berat dengan mata yang terpejam lelah. Direngguknya pemandangan malam sekali lagi sebelum melirik jam yang berdiri di meja kecil di samping tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul satu malam.
“Sudah waktunya…” Gumamnya pelan.
-o0o-
About My New Project
Minnasaaaaannnn~~~!!!!
lama banget nggak nulis di sini lagi, gomen nasai...
akhir-akhir ini aku lagi semangat banget nulis buat proyek baru (parah deh... padahal proyek yang lama juga belom pada selesai).
Dan yang beda kali ini, COLLABORATION PROJECT!!!
aku memutuskan buat kerjasama sama seseorang untuk proyek kali ini. karena cerita yang mau aku buat adalah romance fantasy, dan aku paling lemah di genre romance...
lalu kuputuskan, aku bakal ngajak kerjasama Sunny!!!
alasanku ngajak dia kerjasama:
1. dia juga bisa nulis.
2. dia bisa buat romance.
sebetulnya setelah dijalanin, ada juga yang bikin aku nge-down. cara penulisan dan karakteristik kami beda banget. aku biasa bikin karakter yang 'dark' dan sunny masih kebawa stereotip karakter sebelumnya yang ceria.
but, mondai ga nai!!!
we'll fighting!!
lagi pula, aku baru tau ternyata kerja berdua gitu bisa membuat kata 'Stuck' pergi jauh sejauh-jauhnya!!
aku post part 1-nya di sini ya!!
matte ne!!!
^-^
lama banget nggak nulis di sini lagi, gomen nasai...
akhir-akhir ini aku lagi semangat banget nulis buat proyek baru (parah deh... padahal proyek yang lama juga belom pada selesai).
Dan yang beda kali ini, COLLABORATION PROJECT!!!
aku memutuskan buat kerjasama sama seseorang untuk proyek kali ini. karena cerita yang mau aku buat adalah romance fantasy, dan aku paling lemah di genre romance...
lalu kuputuskan, aku bakal ngajak kerjasama Sunny!!!
alasanku ngajak dia kerjasama:
1. dia juga bisa nulis.
2. dia bisa buat romance.
sebetulnya setelah dijalanin, ada juga yang bikin aku nge-down. cara penulisan dan karakteristik kami beda banget. aku biasa bikin karakter yang 'dark' dan sunny masih kebawa stereotip karakter sebelumnya yang ceria.
but, mondai ga nai!!!
we'll fighting!!
lagi pula, aku baru tau ternyata kerja berdua gitu bisa membuat kata 'Stuck' pergi jauh sejauh-jauhnya!!
aku post part 1-nya di sini ya!!
matte ne!!!
^-^
Jumat, 06 Mei 2011
Suicides
Tittle: Suicides
Artist: Pieces Of the Hell
Album: Before the Suicides
Verse:
When you want to make a friend, everyone make a distance.
But when you want to be alone, suddenly everyone are hanging around.
Everyone treating you like you don't make sense.
You tried everything just to reach your goal, but you fall easily.
Reffrain:
"What the hell?!" you think.
Everything is not going right for you.
"What the hell?!!" you scream
and start to hate the world.
Chorus:
Suicide, suicide.
The voice in your head say.
Suicide, suicide.
And you start hear for them.
With morphin?
With cutter?
Or hang in the rope?
Suicide, suicide. Suicide, suicide.
You start to feel right.
Artist: Pieces Of the Hell
Album: Before the Suicides
Verse:
When you want to make a friend, everyone make a distance.
But when you want to be alone, suddenly everyone are hanging around.
Everyone treating you like you don't make sense.
You tried everything just to reach your goal, but you fall easily.
Reffrain:
"What the hell?!" you think.
Everything is not going right for you.
"What the hell?!!" you scream
and start to hate the world.
Chorus:
Suicide, suicide.
The voice in your head say.
Suicide, suicide.
And you start hear for them.
With morphin?
With cutter?
Or hang in the rope?
Suicide, suicide. Suicide, suicide.
You start to feel right.
Jumat, 28 Januari 2011
Synopsis of "Spirit Sender Band Girl"
Tittle: Spirit Sender Band Girl
Author: Kyuukou Okami
Kau tau hidupku? Yah, hidup biasa seperti yang kau jalani. Bangun, sekolah, ngeband, pulang, menghadapi masalah keluarga, makan, tidur. Esoknya, smua berjalan persis seperti hari ini dan kemarin.
Tapi siapa yang sangka ternyata orang seperti aku punya darah keturunan bangsawan Lilaze. Keluarga kerajaan yg memerintah, Shellion, negara maju yg kaya dan terkenal itu.
Bukan, ini bukan soal pewarisan takhta seperti kisah2 fairytale biasa. Yg jadi masalah adalah, keturunan lilaze mewarisi tugas yg istimewa, yg bahkan hanya diwariskan pd keturunan tertentunya saja. Dan itu termasuk aku.
Kau tau seperti apa tugasnya? Mengirim para arwah ke alam mereka. Aku punya satu kakak perempuan dan satu adik perempuan, tapi ternyata hanya aku yg jadi spirit sender.
Tapi masalah ternyata tak berhenti disana. Sebuah pesan misterius terus menerus dikirimkan padaku. Berkata kalau aku hrs menghentikan pekerjaanku atau smua org yg kukenal akan celaka.
Pertama kuabaikan, tetapi keluarga, dan teman2ku satu persatu terluka secara misterius pada percobaan pembunuhan.
Siapa yg melakukan itu? Bagaimana dia bs tahu? Haruskah kuhentikan tugas spirit senderku?
Mau tahu bagaimana kelanjutan hidupku? Yeah, aku juga mau tahu...
Author: Kyuukou Okami
Kau tau hidupku? Yah, hidup biasa seperti yang kau jalani. Bangun, sekolah, ngeband, pulang, menghadapi masalah keluarga, makan, tidur. Esoknya, smua berjalan persis seperti hari ini dan kemarin.
Tapi siapa yang sangka ternyata orang seperti aku punya darah keturunan bangsawan Lilaze. Keluarga kerajaan yg memerintah, Shellion, negara maju yg kaya dan terkenal itu.
Bukan, ini bukan soal pewarisan takhta seperti kisah2 fairytale biasa. Yg jadi masalah adalah, keturunan lilaze mewarisi tugas yg istimewa, yg bahkan hanya diwariskan pd keturunan tertentunya saja. Dan itu termasuk aku.
Kau tau seperti apa tugasnya? Mengirim para arwah ke alam mereka. Aku punya satu kakak perempuan dan satu adik perempuan, tapi ternyata hanya aku yg jadi spirit sender.
Tapi masalah ternyata tak berhenti disana. Sebuah pesan misterius terus menerus dikirimkan padaku. Berkata kalau aku hrs menghentikan pekerjaanku atau smua org yg kukenal akan celaka.
Pertama kuabaikan, tetapi keluarga, dan teman2ku satu persatu terluka secara misterius pada percobaan pembunuhan.
Siapa yg melakukan itu? Bagaimana dia bs tahu? Haruskah kuhentikan tugas spirit senderku?
Mau tahu bagaimana kelanjutan hidupku? Yeah, aku juga mau tahu...
Langganan:
Postingan (Atom)








