1
Gemuruh angin membentur kaca jendela lebar di sebuah kastil megah yang diselubungi kegelapan malam. Pegunungan di sekitarnya terlihat monokrom, tanpa keceriaan, tanpa cahaya, tanpa warna-warni. Daun-daun di pepohonan mengangguk-angguk layu, seakan mempersembahkan tarian kematian dengan irama musik dari angin yang berhembus kelam. Bulan purnama yang terlihat di atas sana bahkan seakan tak ingin bersinar untuk melakukan tugasnya menerangi dunia.
Dua pasang mata menatap tajam dari dalam salah satu jendela di kastil. Kedua iris gelapnya yang bersinar kemerahan bergerak seirama tarian pepohonan. Rambut ikalnya yang berwarna keperakan tersampir lembut di pundak. Bibirnya yang kemerahan membentuk garis datar di atas rahangnya yang kokoh. Temaram lampu kekuningan di sudut ruangan yang terpantul pada di kulitnya seakan menunjukkan betapa halus dan putihnya kulit itu. tidak, lebih dari putih, tapi pucat. Seperti kulit yang tidak dialiri darah.
Gaun hitam berenda-renda sepanjang mata kaki yang dipakainya membuatnya terlihat sedang berduka. Tangannya bergerak, menyentuh kaca jendela yang dingin, sedingin pandangan matanya ke luar sana.
Tiba-tiba suara derapan kaki yang berjalan cepat memecah keheningan yang memenuhi ruangan. Gadis berambut keperakkan itu melirik pintu kamarnya melalui ekor mata.
Seorang gadis sebayanya dengan rambut hitam kelam yang dikuncir dua, masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu dan berdiri beberapa meter di belakang gadis berambut keperakan itu sambil menggenggam sebuah telepon wireless hitam. “Claire, ada telepon.”
“Siapa?” Tanya gadis berambut keperakkan yang bernama Claire itu singkat.
“Ini aku.” Sebuah suara berat milik seorang pria terdengar jelas dari dalam telepon. Tak perlu bertanya dua kali untuk mengetahui siapa itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis berambut hitam itu menyerahkan telepon kepada Claire.
“Thanks, Viviana.” Balas Claire pendek.
Viviana mengerti bahwa itu adalah isyarat baginya untuk keluar. Maka ia mengangguk tipis dan berjalan ke luar tanpa berkata apa pun.
Claire kembali menghadap ke jendela dan menempelkan telepon itu di telinganya. “Ada apa, Ayah?” Tanyanya dengan nada datar.
“Bagaimana kabarmu, Claire ?” Suara berat seorang pria terdengar dari seberang sana.
“As always…” Balas Claire. Tahu bahwa pertanyaan ayahnya hanya basa-basi sehingga tak berniat menjawab secara panjang lebar.
“Bagaimana keadaan di sana?”
“Sejauh ini, baik.”
Terdengar suara dengusan napas berat dari Ayah Claire. “Ingat apa tugasmu?”
Claire menarik napas lelah. “Menjaga keutuhan klan yang berada di istana ini.” Ia mengucapkannya dengan mantap, tanpa keraguan. Walau nada tertekan terdengar jelas dari sana.
“Bagus. Itulah yang harus kau lakukan, sebagai putriku.” Suara pria itu terdengar puas. “Lalu, bagaimana dengan latihan-latihanmu?”
“Baik.”
“Ehm-hm…” Pria itu menggumam seolah-olah berkata ‘Benarkah?’
“Aku berkata yang sebenarnya. Aku menuruti semua jadwalmu tanpa absen.” Jawab Claire meyakinkan.
“Well, bagus… Jika begitu, pasti kini kau sudah berkali-kali lipat lebih baik dari tiga bulan lalu, betul?” Pertanyaan yang seakan menuntut ketegasan, bukan jawaban.
“Ya, ayah.”
“Kau tidak keberatan suatu hari nanti aku berkunjung untuk melihat keadaan dan perkembanganmu, bukan?” Kemudian terdengar deheman dari ayah Claire, memotong perkataannya sendiri. “Ah, dan tentu saja untuk memantau keadaan klan.” Sambungnya.
“Tidak, ayah. Kau bisa datang kapan saja…” Balas Claire.
Kemudian sebuah keheningan panjang menjeda dialog mereka. Claire terdiam, tanpa sedikit pun keinginan untuk mengeluarkan suara walau dalam hati, ia sedikit heran mengapa ayahnya, Leonardo, sang pemimpin klan yang biasanya aktif berbicara dan selalu tahu apa yang harus dikatakan, kini diam. Mata Claire masih mengarah ke luar jendela, namun kini terlihat menerawang. Memikirkan sesuatu yang jauh sekali.
Saluran masih tersambung, belum ada yang mematikan telepon. Tapi keterdiaman kedua pihak membuat seakan-akan telepon telah terputus. Bahkan hembusan napas pun tak dapat didengar.
“Pada awalnya, mungkin aku bukanlah apa yang kau inginkan. Tapi aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Hingga suatu saat kau akan bangga padaku.” Claire memecah keheningan itu dengan kata-kata selirih angin.
“Aku hanya berharap kau dapat melakukan tugas-tugasmu dengan baik…” Balas pria itu dengan dingin.
”Mmm…” Claire mendengung sebagai ganti jawaban ‘Ya.’.
Klik!
Sambungan diputus. Tanpa basa-basi, tanpa kata-kata manis, tanpa salam penutup.
Claire membiarkan tangannya yang memegang telepon itu bergantung lurus ke bawah dan menghela napas.
Kadang ia menyesal tak dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki. Ayahnya—sang pemimpin klan—sangat berharap mempunyai anak laki-laki agar bisa ditempanya menjadi penerus. Claire dapat membayangkan betapa kecewanya ia mengetahui yang didapatinya adalah seorang anak perempuan. Tapi bagaimana pun, Claire adalah putri semata wayang yang dapat menggantikan posisinya, sehingga semenjak ia berusia sepuluh tahun, ayahnya mulai menggemblengnya dengan latihan-latihan keras.
Claire mengikuti semua peraturan tangan besi ayahnya dengan patuh. Tanpa bantahan, tanpa keluhan, dan tanpa menampakkan air mata atau kesakitan walau hal-hal yang dilakukannya terlalu berat untuk seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun. Satu dua kali, ia pernah merasa tak tahan lagi dan diam-diam lari memeluk ibunya sambil menangis. Tapi ibunya menenangkan dengan berkata, “Jika kau merasa ayahmu tak berlaku seperti yang kau harapkan, maka terlebih dahulu penuhilah harapannya dan buat ia bangga. Sehingga kelak dia akan berbalik untuk memenuhi harapanmu.”
Claire memegang teguh kata-kata itu hingga kini, namun sekali pun ia sudah berbuat sebaik yang ia bisa, ia dapat merasakan bahwa ayahnya tak pernah sekali pun bangga. Baginya, Claire adalah seorang perempuan, dan pemimpin perempuan tak akan dapat lebih hebat dari laki-laki kecuali ia mendidiknya dengan keras.
Dihembuskannya napas berat dengan mata yang terpejam lelah. Direngguknya pemandangan malam sekali lagi sebelum melirik jam yang berdiri di meja kecil di samping tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul satu malam.
“Sudah waktunya…” Gumamnya pelan.
-o0o-
1 komentar:
kmu mau tulis semuanya disini ? O.o
btw aku udah follow blog mu~ follow blog aku jg ya~! ^^
Posting Komentar